Halo, sobat investor! Bayangin kalau portofolio kamu lagi senyum lebar karena pasar saham dan nilai tukar rupiah sedang on fire. Yap, di awal Februari 2026 ini, IHSG dan rupiah lagi tampil perkasa banget. Pada perdagangan Rabu, 11 Februari 2026, IHSG langsung melonjak hampir 2% ke level 8.290, sementara rupiah menguat ke Rp16.786 per dolar AS.
Ini bukan cuma angka biasa, lho. Momentum positif ini bikin banyak investor optimis, apalagi didukung fundamental ekonomi Indonesia yang masih solid. Tapi, jangan senang dulu terlalu lama. Di luar sana, drama antara Amerika Serikat dan China masih mengintai, siap bikin pasar goyah kapan saja.
Artikel ini bakal bahas kenapa IHSG dan rupiah lagi menguat, apa pendorongnya, plus risiko dari ketegangan geopolitik itu. Kita obrolin santai biar kamu bisa ambil keputusan investasi yang lebih tenang. Yuk, langsung mulai!
IHSG Melonjak Hampir 2%, Sektor Energi Jadi Bintangnya
Hari Rabu kemarin benar-benar hari yang cerah buat Bursa Efek Indonesia. IHSG ditutup di level 8.290,97, naik 159,23 poin atau 1,96%. Ini lanjutan dari penguatan sebelumnya, di mana indeks sudah tembus 8.100-an.
Sepanjang hari, IHSG bergerak dari level terendah 8.118 sampai puncaknya di atas 8.290. Optimisme investor lagi tinggi-tingginya, bro!
Yang bikin menarik, hampir semua sektor ikut naik. Sektor energi jadi juara dengan melonjak nyaris 6%, diikuti bahan dasar yang naik 5,34% dan industri 3,92%. Bayangin, saham-saham energi lagi panas karena harga komoditas global yang mulai stabil dan permintaan domestik yang kuat.
Cuma sektor finansial yang agak lemes, turun tipis 0,49%. Tapi secara keseluruhan, ratusan saham hijau, transaksi rame, dan market cap terus nambah. Ini sinyal kalau pasar lagi percaya diri sama prospek ekonomi kita.
Kenapa bisa begini? Banyak faktor, tapi yang paling kelihatan adalah laporan kinerja emiten yang solid dan faktor teknikal yang mendukung. Investor lagi pada beli saham-saham big cap, terutama yang punya fundamental bagus.
Rupiah Ikut Perkasa, Dollar AS Kena Tekanan
Nggak cuma IHSG, rupiah juga lagi gacor. Pada 11 Februari 2026, rupiah ditutup di Rp16.786 per dolar AS, menguat 25 poin atau 0,15% dari hari sebelumnya. Pagi harinya sempat lebih kuat lagi, tapi tetap ditutup di zona hijau.
Apa yang bikin rupiah kuat? Ada dua sisi: eksternal dan internal.
Dari luar, data ekonomi AS lagi lemah. Penjualan ritel Januari lebih rendah dari ekspektasi, sentimen konsumen AS jatuh ke level terendah sejak lama. Ini bikin dolar AS agak tertekan, dan mata uang emerging markets seperti rupiah kebagian rezeki.
Dari dalam negeri, permintaan obligasi pemerintah lagi tinggi banget. Yield obligasi turun di hampir semua tenor, artinya investor asing dan domestik lagi ramai beli SBN. Ini nunjukin kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia masih oke.
Bank Indonesia juga terus jaga stabilitas dengan intervensi cerdas. Hasilnya? Rupiah tetap menguat tanpa drama berlebihan.
Apa Sih Pendorong Utama Penguatan IHSG dan Rupiah Ini?
Oke, kita breakdown yuk biar lebih jelas. Penguatan ini nggak datang tiba-tiba. Ada beberapa faktor kunci yang lagi bekerja bareng:
- Optimisme Investor Domestik: Banyak yang percaya ekonomi Indonesia bakal tumbuh lebih cepat tahun ini, dengan inflasi terkendali di kisaran 2,5% ±1%. Laporan keuangan emiten juga banyak yang positif.
- Kinerja Emiten Solid: Perusahaan-perusahaan besar lagi rilis laba bagus, terutama di sektor energi dan komoditas. Ini bikin sahamnya laris manis.
- Faktor Teknis dan Sentimen Global: Harga minyak dan komoditas lagi naik tipis, plus data AS yang lemah bikin dolar nggak terlalu ganas.
- Kebijakan BI yang Mantap: Intervensi pasar dan komunikasi yang transparan bikin pasar tenang.
Singkatnya, ini kombinasi antara fundamental kuat dan timing yang pas. Kayak tim sepak bola yang lagi on form, semua elemen klik bareng.
Tapi Hati-Hati, Drama AS-China Masih Mengintai
Nah, di sini bagian seriusnya. Meskipun IHSG dan rupiah lagi on fire, jangan lupa ada “hantu” yang selalu siap muncul: ketegangan antara Amerika dan China.
Tahun 2026 ini, trade war antara kedua raksasa ekonomi itu masih berlanjut. Ada ancaman tarif baru, pembatasan ekspor teknologi, sampai isu surplus perdagangan China yang bikin AS gerah. Kalau tensi naik lagi, dampaknya ke Indonesia bisa lumayan:
- Harga Komoditas Turun: China adalah pembeli besar batu bara, nikel, dan CPO kita. Kalau ekonominya melambat, permintaan turun, harga jatuh, saham energi dan tambang langsung kena.
- Limpahan Barang Murah: China kalau kena tarif AS, bisa alihkan ekspor ke Indonesia. Barang murah banjiri pasar, industri lokal tertekan.
- Volatilitas Global: Wall Street goyah, investor asing kabur dari emerging markets, termasuk kita. Rupiah bisa melemah mendadak.
- Risiko Inflasi dan Suku Bunga: Kalau dolar AS menguat karena kebijakan Trump, BI mungkin terpaksa naikkan suku bunga lagi.
Contohnya, setiap kali ada berita tarif baru, pasar Asia langsung merah. Kita nggak mau momentum bagus ini dirusak gara-gara drama di luar kendali kita, kan?
Tips Buat Investor Biar Tetap Aman di Situasi Ini
Tenang, nggak perlu panik. Justru momen kayak gini bisa jadi peluang kalau kamu main pintar. Ini beberapa tips praktis:
- Diversifikasi Portofolio: Jangan all-in di saham energi atau komoditas. Campur dengan defensif seperti consumer goods atau telekom.
- Pantau Berita Geopolitik: Selalu cek update AS-China. Kalau tensi naik, siap-siap take profit atau hedging.
- Fokus Fundamental: Pilih saham perusahaan yang punya neraca keuangan kuat dan dividen bagus.
- Manfaatkan Rupiah Kuat: Kalau punya dolar, pertimbangkan konversi sekarang. Atau beli aset dalam negeri yang lagi murah.
- Jangka Panjang Tetap Prioritas: Volatilitas itu biasa. Ekonomi Indonesia punya resiliensi tinggi, risiko resesi kita lebih rendah dibanding AS atau China.
Intinya, nikmati momentumnya, tapi jangan lupa pasang rem.
Proyeksi Ke Depan: Masih Ada Ruang Naik?
Banyak analis bilang IHSG masih punya potensi ke 8.400 atau lebih kalau sentimen positif berlanjut. Rupiah juga diprediksi stabil di kisaran Rp16.700–16.800 kalau data global nggak terlalu buruk.
Tapi ya itu, kuncinya di stabilitas global. Kalau drama AS-China reda, kita bisa lanjut rally. Sebaliknya, siap-siap koreksi sementara.
Kesimpulan: Nikmati Momentum, Tapi Tetap Waspada
IHSG dan rupiah lagi on fire di Februari 2026 ini memang bikin hati senang. Penguatan hampir 2% di IHSG, rupiah yang perkasa, semua didukung optimisme dan fundamental bagus. Tapi ingat, drama Amerika-China masih jadi risiko besar yang bisa rusak semuanya kapan saja.
Jadi, nikmati kenaikannya, ambil untung secukupnya, dan selalu diversifikasi. Investasi itu maraton, bukan sprint. Kamu sendiri gimana, sudah siap manfaatin momentum ini? Share di komentar ya!

:quality(75)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/02/11/525b5a4b19e9e30fe8f72a4917cdc1a5-Screenshot_2026_02_11_100653.png)