Jakarta terus menghadapi ancaman cuaca ekstrem pada awal 2026. Hujan intensitas tinggi sering memicu genangan dan banjir di berbagai wilayah ibu kota. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempertahankan operasi modifikasi cuaca sebagai strategi utama mitigasi bencana hidrometeorologi.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) masih berlangsung hingga Februari 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, bersama BMKG dan BNPB, memperpanjang kegiatan ini untuk mengurangi risiko banjir. Data terkini menunjukkan penyemaian awan berhasil menurunkan curah hujan hingga puluhan persen.
Pendekatan ini membuktikan efektivitasnya dalam mengelola pola hujan. Masyarakat perlu memahami teknologi ini untuk mengurangi kekhawatiran sekaligus mendukung upaya pencegahan bencana.
Apa Itu Teknologi Modifikasi Cuaca?
Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) merupakan rekayasa atmosfer yang mengintervensi proses pembentukan hujan. TMC menyemai bahan kimia ke awan untuk mempercepat atau mengarahkan curah hujan ke area aman.
Di Indonesia, TMC sering mengurangi intensitas hujan di wilayah urban padat seperti Jakarta. Pesawat khusus menyebarkan natrium klorida (NaCl) atau kalsium oksida (CaO) sebagai inti kondensasi.
Bahan tersebut menarik uap air. Tetesan hujan jatuh lebih awal sebelum mencapai pusat kota. TMC bukan menciptakan atau menghentikan hujan secara total, melainkan mengelolanya secara strategis.
Sejarah TMC di Indonesia dan Jakarta
Indonesia mulai mengembangkan TMC sejak era BPPT (sekarang bagian BRIN). Awalnya, teknologi ini mendukung sektor pertanian dengan meningkatkan curah hujan di waduk.
Seiring waktu, aplikasi bergeser ke mitigasi bencana. Operasi besar pertama untuk banjir Jabodetabek terjadi pada 2020.
Sejak itu, TMC rutin diterapkan saat musim hujan puncak. Jakarta menjadi prioritas karena kerentanan terhadap banjir akibat hujan lokal dan kiriman dari hulu.
Pada 2026, operasi ini melibatkan lebih banyak armada pesawat. Kolaborasi dengan TNI AU memperkuat kapasitas pelaksanaan.
Kondisi Cuaca Ekstrem Jakarta pada 2026
BMKG memprediksi puncak musim hujan di Jabodetabek jatuh pada Februari 2026. Curah hujan tinggi dipengaruhi fenomena La Niña dan Madden-Julian Oscillation (MJO).
Potensi hujan ekstrem mencapai 150 mm per hari di beberapa area. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir, terutama di wilayah rendah seperti Jakarta Utara dan Barat.
Genangan sering terjadi karena drainase belum optimal. Oleh karena itu, modifikasi cuaca Jakarta menjadi solusi jangka pendek yang efektif.
Operasi Modifikasi Cuaca Jakarta 2026: Status Terkini
Operasi dimulai sejak Januari 2026 dan beberapa kali diperpanjang. Hingga 4 Februari 2026, OMC masih aktif dengan evaluasi harian oleh BPBD DKI Jakarta.
Pesawat seperti CASA 212 dan Cessna Grand Caravan melakukan puluhan sorti. Total bahan semai mencapai ribuan kilogram NaCl dan CaO.
Penyemaian difokuskan di perairan utara Jakarta dan hulu sungai. Hasil awal menunjukkan penurunan curah hujan signifikan di wilayah target.
BNPB mendukung dengan armada tambahan. Anggaran Pemprov DKI mencapai Rp 31 miliar untuk operasi sepanjang tahun.
Cara Kerja Penyemaian Awan dalam TMC
Proses dimulai dengan pemantauan radar BMKG. Tim mengidentifikasi awan potensial yang mengarah ke Jakarta.
Pesawat terbang pada ketinggian 8.000–11.000 kaki. Mereka menyemai NaCl untuk awan hangat atau CaO untuk awan dingin.
Partikel bahan semai mempercepat pembentukan tetesan hujan. Hujan turun lebih cepat di laut atau pegunungan, sehingga mengurangi beban di kota. Satu sorti bisa menyemai hingga ton bahan. Efektivitas tergantung kondisi atmosfer saat itu.
Instansi yang Terlibat dalam Operasi
BPBD DKI Jakarta memimpin koordinasi lapangan. BMKG menyediakan data prakiraan dan analisis cuaca real-time. BNPB memberikan dukungan armada dan logistik nasional. TNI AU mengoperasikan pesawat serta memastikan keselamatan penerbangan. Kolaborasi ini menjamin operasi berjalan efisien. Pos komando biasanya di Lanud Halim Perdanakusuma.
Manfaat dan Efektivitas Modifikasi Cuaca Jakarta
Data BPBD menunjukkan penurunan curah hujan hingga 23,85% pada fase awal Februari 2026. Beberapa evaluasi mencatat reduksi hingga 35%. Genangan dan banjir berkurang signifikan dibandingkan tanpa intervensi. TMC melindungi infrastruktur vital serta mengurangi kerugian ekonomi. Selain itu, operasi ini mendukung pengisian waduk di hulu. Manfaat jangka panjang termasuk penguatan sistem peringatan dini.
Potensi Dampak dan Kontroversi seputar TMC
Beberapa pihak khawatir TMC menyebabkan kekeringan di wilayah lain. BMKG menegaskan bahwa teknologi ini hanya mengarahkan hujan, bukan mengurangi total curah hujan regional. Bahan semai seperti NaCl aman dan digunakan secara global. Tidak ada bukti signifikan terhadap dampak negatif lingkungan jangka panjang. Kontroversi sering muncul dari informasi keliru di media sosial. Edukasi publik menjadi kunci untuk membangun kepercayaan.
Prospek Masa Depan Modifikasi Cuaca di Jakarta
Pemprov DKI berkomitmen melanjutkan TMC setiap musim hujan. Inovasi seperti drone semai sedang dikaji oleh BRIN. Integrasi dengan pompa stasioner dan normalisasi sungai akan memperkuat mitigasi. Perubahan iklim membuat TMC semakin relevan di masa depan. Pemerintah juga meningkatkan anggaran untuk teknologi lebih canggih. Harapannya, Jakarta lebih resilien terhadap cuaca ekstrem. Operasi modifikasi cuaca Jakarta 2026 membuktikan komitmen pemerintah dalam melindungi warga dari bencana. Teknologi ini efektif mengurangi dampak hujan ekstrem saat didukung data akurat dan koordinasi solid. Pantau terus informasi dari BMKG dan BPBD DKI untuk update cuaca terkini. Ikut serta menjaga lingkungan dengan membersihkan saluran air di sekitar rumah Anda.






